Thursday, 26 February 2015

Berkaca dari Cikal Bakal Perbedaan Pendapat Umat Islam

Oleh: Aliyul Murtadlo[1]
Sekarang ini banyak sekali kelompok-kelompok Islam, hingga tak terhitung jumlahnya. Termasuk di Indonesia. Organisasi masyarakat berbasis keislaman marak di Indonesia, dengan cara pandang tersendiri. Sebut saja lah Muhammadiyah, NU, Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Persis, dan lain-lain. Belum lagi aliran tarekat yang tersebar di antero Indonesia, belum lagi organisasi sayap dari organisasi masyarakat tersebut. Sangat kompleks, menunnjukkan keberagaman umat Islam itu sendiri.
Sebelum islam datang, masyarakat Quraisy sangat fanatik dengan kabilahnya. Kabilah Umayyah berasal dari kalibah yang sama pula dengan Bani Hasyim. Kedua kabilah ini berasal dari keluarga Abdul Manaf. Akan tetapi kabilah Bani Hasyim lebih cekatan dan profesional dalam manajemen surberdaya air di Mekah, sehingga tinggal menetap di Mekah, sedangkan Bani Umayyah hijarah ke negeri Syam untuk mencari penghidupan yang baru. Akan tetapi, rasa rivalitas ini belum hilang.[2]
Rasulullah membawa proyek besar, misi persatuan ummat. Nabi Muhammad berhasil menyarukan seluruh kabilah di Jazirah Arab. Rasulullah menyatukan Bani Hasyim dan Bani Umayyah dari mekkah. Menyatukan kaum muhajirin dan anshor, menyatukan Aush dan Khasraj dimadinah. Persatuan ini terjaga hingga beliau wafat dan masih terjaga hingga khlifah kedua, Umar Al-Faruq. Tetapi sebenarnya sedikit benih kesukuan, dari umat islam yang ditengarai munculnya semboyan  aimmatu minal Quraisy (para imam suku Quraisy).
Khalifah Utsman adalah orang yang selau memperjuangkan dakwah Rasulullah. Jika Rasul memerintahkan seseorang untuk bershodaqoh, makan Utsman bin Affan adalah yang pertama dalam menjalankan perintah tersebut.  Benih perpecahan khalifah Utsman muncul akibat rongrongan keluarga Bani Umayyah yang memintanya untuk memberi kedudukan dan fasilitas kepada meraka. Gubernur yang awalnya dipilih oleh Khalifah Umar Al-Faruq digantikan oleh orang-orang dari keluarga Bani Umayyah.[3]
Kebijaksanaan Utsman yang merangkul sanak keluarga ini menimbulkan rasa tidak simpatik terhadap beliau. Para sahabat yang awalnya mendukung menjadi menjauh. Semetara itu, muncul perasaan tidak senang di daerah-daerah, terutma di Mesir. Penggantian Umar Bin Ash dengan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah membuat 500 orang bergerah ke Madinah untuk melakukan aksi protes. Sebagian riwayat ada yang pengatakan pengepungan selama 40 hari dan Utsman tebunuh oleh demonstran.
Pengangkatan Khalifah Ali KAW secara aklamasi langsung dibentuk, karena kandidat pemilihan oleh tim formatur memunculkan nama Utsman Bin Affan RA dan Ali bin Abu Tholib KAW. Namun keadaan sudah terlampau kacau. Naiknya Ali KAW di sebagai khalifah tidak disetujui oleh dua kubu sekaligus, yaitu Thalhah bin Zubair yang didukung dari Sayyidatina Aisyah dan dari Gubernur Damaaskus Muawiyah yang merupakan keluarga Utsman
Tantangan Thalhah bin Zubair  berakibat terjadinya kontak senjata dengan khalifah Ali di Irak pada tahun 656. Dukungan Aisyah kepada Thalhah bin Zubair dalam sebagian riwayat mengataka bahwa perang jamal dipimpin oleh Aisyah. Perang yang menumpahkan Thalhah bin Zubair  ini disebut dengan perang jamal. Sedangkan Aisyah selamat dan dikirim kembali lagi ke mekkah.
Sedangkan Muawiyah menuntut Khalifah Ali KAW untuk mengadili pembunuh Utsman RA. Karena tidak ada tanggapan serius dari Ali KAW, Muawiyah menuduh Ali KAW melindungi pembunuh Khalifah Utsman. Pembangkangan Muawiyah terhadap Khalifah berakhir pada peperangan yang disebut dengan perang Shiffin. Di dalam peperangan, pasukan Muawiyah dipastikan kalah, akan tetapi Amr bin Al-Ash mengangkat Al-Quran dan tombak menandakan minta berdamai. Permintaan ini membuat bingung, sehingga Abu Musa Al-Asy’ari menjadi perwakilan dalam at-tahkim
Pasukan Ali KAW yang menolak at-tahkim mereka keluar dari pasukan Ali KAW, dan mereka disebut golongan Khowarij. Golongan yang mengkafirkan Ali KAW maupun Muawiyah karena telah melakukan dosa besar berupa at-tahkim. Khowarij memiliki semboyan utama, La hukmu illa Allah, tidak ada hukum melainkan hukum Allah, sehingga siapapun yang tidak menggunakan hukum Allah maka akan dicap kafir. Golongan ini yang menajadi cikal-bakal radikalisme beragama. Mereka menghalalkan pembunuhan Muawiyan dan Ali KAW dengan alasan karena tidak menggunakan hukum Allah dalam berperang. Sedangkah—menurut mereka—at-tahkim merupakan sutu bentuk dari pelanggran hukum Allah.
Pasukan Ali KAW yang setia, mereka disebut dengan Syiatu Ali atau pendukung Ali KAW. Dari pendukungnya ada yang memuji secara berlebihan menjadi cikal bakal golongan Syiah. Dukungan merekan terhadap Ali KAW berkaitan dengan imamah, yaitu 1) Wafatnya Nabiy SAW , dan leterlamabatan Ali dalam membaiat  Abu Bakar, 2) Kekacauan pada masa kholifah Utsman, hingga berakhir dengan terbunuhnya beliau 3) pertempuran Shiffin dan peristiwa at-tahkim. Tokoh Ali KAW begitu Karismatik terhadap mereka, hingga mengagumu belaiau, dan manjadikan bahwa konse imamah menjadi hal ushul, bukan hal yang furu’.
Akhirnya Ali KAW terbunuhnya di tangan umat muslim. Ditangan seorang yang ahli al-qur’an dari Khowarij. Dari sini terlihat bahwa umat Islam sangat perlu menjaga akidah supaya tidak terlalu ekstrim ke kanan atau ke kiri, ke atas atau bawah. Integritas antara hati dan pikiran selalu berirama dalam menjalin kebersamaan berukhuwah. Ukhuwah islamiyyah, ukhuwah wathoniyyah.
Refleksi umat Islam melihat kenyataan tersebut sangat miris. Perpecahan yang timbul akan menjadi lebih besar umat Islam saat ini apabila saling tidak dapat menurunkan ego. Sudahlah, jangan terlalu untuk berambisi membesarkan golongannya sendiri. Niatkan untuk mengangkat harkat dan martabat umat Islam yang lillahi ta’ala. Umat ini memang diciptakan berbeda oleh Allah, tujuannya adalah lita’arofu. Rumusan yang paling baik bagaimana kita betenggang rasa, toleransi antar pendapat dalam Islam. Lebih jauh lagi berdialektika, dan bersama-sama membentuk ‘Izzul Islam wal muslimin.
Jargon ‘berdiri di atas dan untuk semua golongan’ menjadi relevan untuk memperjuangkan sinergisitas umat Islam. Apalagi kita yang dididik oleh orang yang berbeda, guru yang berbeda, syaikh yang berbeda, kyai yang berbeda, murobbi yang berbeda, musyrif yang berbeda, wong sahabat saja yang dididik langsung oleh Rasulullah sendiri berbeda pendapat kok.
Adalah benar jika kita menggaungkan syari’at, adalah benar jika menggemakan hakikat, adalah benar jika memilih thoriqot. Sinergisitas harus dibangun dalam rangka dakwah Islam. Mengajari orang yang Islam KTP ke arah lebih taat, menjadi sholat lima waktu. Mendo’akan dan menasehati orang maksiat agar taubat. Meberikan pencerahan di daerah terpencil yang belum kenal agama. Memberi shodaqoh, zakat dan donasi sosial ke orang yang membutuhkan. Karena bila kita konsen di perbedaan pendapat, maka kita akan sulit bergerak di ranah-ranah dakwah yang sebenarnya menjadi tugas yang lebih urgent dari mempersoalkan perbedaan pendapat.




[1] Pengurus PMII Ibnu Sina 2014—2015
[2] Baca buku Hegemoni Quraisy
[3] Nurdin,M.Amin.,Abbas,Afifi Fauzi.2012.Sejarah Pemikiran Islam.Jakarta.Penerbit AMZAH

Wednesday, 11 February 2015

Bagaimana Kita Memandang Ahlussunnah Wal Jama’ah?


Oleh: Aliyul Murtadlo[1]
Bila kita berbicara mengenai Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) pembeicaraan tidak berhenati sak lek hanya itu-itu saja. Bahasan Aswaja bergantung kepada kita memandang dari sisi mana terlebih dahulu. Yang telah sering dikaji oleh beberapa organisasi keislaman, baik masyarakat, kesiswaan, atau kemahasiswaan tidak lepas dari sudut pandang sejarah. Padahal aswaja tidak hanya dilihat dari sejarah, kemudian baimana kita merefleksikan diri sendiri. Kita dapat memandang aswaja dari berbagai prespektif, yaitu:
1.      Tinjauan historis
Tinjauan historis memandang aswaja sebagai bagian dari sejarah beserta tokoh-tokoh yang berperan penting di dalamnya. Tinjauan historis tidak lepas dari kehidupan Rasulullulah SAW, peristiwa berdarah saat Kholifah Ar-Rosyidun, peristiwa penguatan teologi Mu’tazilah pada masa dinasti Muawiyah dan Abbasyiyyah dan akhirnya Mu’tazilah runtuh pada massa Abbasyiyyah
2.      Substantif
Tinjauan substantif lebih menekankan pada konten dari ajaran Aswaja Itu sendiri. Bagaimana bertauhid, mengenal Allah dan syifatnya yang harus diimani, shifat Rasulullah dan malaikat. Tata cara Bertuhid seperti ini diberi nama ilmu Tauhid. Bagaimana melakukan kegiatan praktis di kehidupan sehari-hari baik dalam ibadah maupun muamalah. Tata caa ini diatur dalam ilmu fiqih. Dalam pendekatan subtantif,\ juga mengatur bagaimana menyucikan diri, menata hati, pendekatan diri denga Ilahi, dan hakikat berperilaku yang keseluruhannya itu ditata dalam ilmu tasawuf.
3.      Tinjauan ideologis/paradigmatis
Dari sini menawaarkan konsp bahwa aswaja adalah sebuah cita-cita dari ide bersama (ideologis). Selain itu juga merupakan paradigma (cara berfikir) bagi yang mneggunakannya. Secara ideologis, Aswaja yang diwarkan oleh salah satu ormas sebagai jalan tengah (tawasuth). Saat tawasuth ini dijadikan pedoman, maka terdapat konsekuensi yang tidak dapat dipisahkan dengannya yaitu tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) dan ta’addul (bersikap adil)
Aswaja dalam teori selalu menisbatkan Teologi kepada Abu Hasan Al-As’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Tetapi seringkali yang dijadikan tonggak sejarah dengan cerita yang fenomenal adalah cerita Abu Hasan Al-Asy’ari yang awalnya merupakan tokah ulama’ mu’tazilah pada awalnya. Anggapan Aswaja seperi ini dipahami dalam Aswaja dari prespektif sejarah (Tinjauan historis)
Ketika berbicara secara tinjauan historis, pembicaraan mengenai Ahlussunnah Waljama’ah ada tahap periodisasi. Periodisasi tersebut mencakup massa Islam Kaffah Rasulullah SAW, masa Kholifatur Rosyidin, Dinasti Umayyah, Dinas Abbasyiyyah, dan Turki Utsmani. Poin tambahan jika dihubungkan dengan keadaan Indonesia maka ada periodisasi Islam Indonesia.
1.      Islam Kaffah Rasulullah SAW
Islam jaman Rasulullah telah jauh berbeda dengan masa sekarang. Jika umat semasa Nabiy Munahammad SAW mempunyai uswatun hasanah secara lengkap. Beliau merupakan murobbi jasmani dan ruhani ummat. Rasulullah berhasil meredam seluruh perbedaan antr golongan dalam kesukuan masyarakat Islam. Menjunjung tinggi nilai kebersamaan (mungkin sekarang dapat dikatakan nilai humanisme) umat. Mempersaudarakan muslim Muhajirin dan Anshor. Membuat perdamaian dengan orang kafir dengan piagam madinah sebagai tata kelola kehidupan antar golongan dan antar umat beragama.
2.      Kholifatur Rosyidin,
Kajian Aswaja kadang konsen dengan munculnya golongan-golongan pasca Rasulullah wafat. Golongan tersebut muncul dengan asalan kesukuan atau dengan alasan dukungan terhadap calon Kholifah yang ia dukung.
3.      Dinasti Umayyah,
Pada masa ini muncul sekte Syiah yang awalnya sebagai gerakan politik, berkembang ke arah pemikiran. Apa akhir masa-masa akhir Dinasti Umayyah muculnya paham Al-Mu’tazilah.
4.      Dinasti  Abbasyiyyah,
Apa masa akhir Dinasti Umayyah paham Al-Mu’tazilah berkembang subur, banyak para ulama’ yang berpaham Almu’tazilah, termasuk Abu Al-Hasan Al-Asy’ari. Aswaja yang kita terima, tidak jauh dari sejarah mengenai pertikaian pemahaman Teologi Abu Al-Hasan Al-Asy’ari pada jaman dahulu kala ketikan Al-Mu’tazilah melakukan al-mihnah kepada para ulama yang menentang pahamnya. Abu Al-Hasan Al-Asy’ari yang berbalik arah mendapat dukungan dari umat. Sedangkan Al-Mu’tazilah kurang begitu disukai karena trauma terhadap peristiwa al-mihnah[2].
5.      Turki Utsmani
Masa-turki Usmani muncul tabrakan dengan kemodernitas barat. Tabrakan ini membuat adanya hasil yang berbeda-beda. Pasca keruntuhan muncul gerakan Pan-Islamisme yang cenderung Fundamentalis dan menetang kemodernitasan dan ada yang mengakomodasi kemodernitasan seperti Mustafa Kemal Pasha.
6.      Islam Indonesia
Berbicara Aswaja di Indonesia, berbicara mengenai madzhab mayoritas masyarakat Islam Indonesia. Kontruksi madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia telah terbentuk pada masa lampau, masa munculnya Kerajaan Samudra Pasai dan tumbuh subur pasca keruntuhan kejayaan Majapahit. Ahlussunnah wal Jama’ah di kodifikasi oleh Ulama’ di Indonesia. Ulama’ di Indonesia yang tergabung dalam Jam’iyyah Nahdlotul Ulama  mengkodifikasi bahwa Ahlussunnah Waljamaah adalah mereka yang mengikuti Imam Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, Imam Ghozali dan Junaid Al-Baghdadi dalam bidang tasawuf, dan mengikuti salah satu dari 4 Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Hambali, Imam Syafi’i dan Imam Maliki)
Kajian terhadap Aswaja dari prespektif sejarah akan terus relevan digunakan. Sejarah mengajari kita untuk berperilaku dan mengambil keputusan di masa mendatang. Sejarah menjadi bahan evaluasi terhadap tatanan masyarakat yang ada. Sejarah mengajari untuk tidak berperilaku ekstrim layaknya Qodariyyah, Jabbariyyah, Mu’tazilah, Syiah dll. Membaca sejarah membuat cakrawala terbuka dan tidak terjebak kepada pemikiran yang jumut dan kaku.
Secara paragdimatis,  prinsip Aswaja adalah Tawasuth, tawazun, tasamuh, dan  ta’addul dapat dikembangkan kembali. Pengembangannya dengan terus melakukan kajian terhdapa seluruh pemikiran siapa saja yang ada di dunia ini. Pengembangan ini menjadi tugas bagi generasi muda Aswaja. Kader PMII Ibnu Sina  harus mempelajari ilmu yang ada di internal kajian Aswaja dari kitab-kitab klasik yang mu’tabaroh. Jika sudah selesai, kajian terhadap pemikiran baru pun menjadi sangat penting. Karena pemikiran baru ini menjadi tantangan bagi kita. Bagaimana dalam kontruksi pemikiran itu dapat memadukan antara yang saling erlwanan atau meredam perbedaan dalam berpandangan.
Semangat melakukan kajian ini yang menjadi dasar untuk terus melakukan ijtihadnya sesuai dengan masanya. Kader PMII Ibnu Sina  menjadi pelopor pemersatu, pendorong, pendokrak pintu ijtihad. Jika sudah tuntas dengan semua kitab klasik yang mu’tabaroh, silahkan untuk mengembangan pemikiran Nitsche, Karl Mark, tau filsafat barat yang lain. Jika sudah ada bekal yang cukup (dari kajian agama) akan mampu untuk menyerap dan memadukan dengan kajian kitab agama dan realita di zaman ini. Sejalan dengan baitul hikmah di jaman Abbasyiyah, yang mampu menjadi pusat kajian Islam, dan Ilmu barat, sehingga menambah keilmuan masyarakat muslim.
Gerakan untuk melakukan kajian terhadapa pemikiran sangatlah penting untuk selalu diperbaharui. Kader PMII Ibnu Sina , generasi yang meyakini bahwa ulama’ salaf adalah ulama’ yang dapat menjadi panutan. Keistiqomahan para ulama tidak tertandingi oleh massa setelahnya. Dan generasi baru sebagai pencerah dan pemberi solusi yang berembang pada zamannya.



[1] Pengurus Rayon PMII Ibnu Sina masa Khidmat 2014—2015
[2] Nurdin,M.Amin., Abbas,Afifi Fauzi.2012.Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta.Penerbit AMZAH. Hal 95—98 

Refleksi mengapa kita beraswaja? Memperhatikan praktik Aswaja Mahasiswa PMII Ibnu Sina

Aswaja tidak jauh dari sejarah mengenai pertikaian pemahaman Teologi pada jaman dahulu kala ketikan Mu’tazilah melakukan al-minhah kepada para ulama yang menentang pahamnya. Hingga saat ini, kecenderungan aswaja dilihat dari prespektif sejarah masih relevan digunakan sebagai obyek kajian
Aswaja dalam teori selalu menisbatkan Teologi kepada Abu Hasan Al-As’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Tetapi seringkali yang dijadikan tonggak sejarah dengan cerita yang fenomenal adalah cerita Abu Hasan Al-Asy’ari. Apa karena   Abu Hasan Al-As’ari merupakan orang mu’tazilah pada awalnya, sehingga kajian Aswaja di PMII atau NU sering membahas Abu Hasan Al-As’ari, padahal kajian sejarah mengenai sosok juga sangat penting. Mengingat keduanya adalah tokoh dari Pemikiran Kalam Aswaja.
Secara umum prinsip Aswaja adalah Tawasuth, dari prinsip ini muncul beberapa konsekuensi prinsip lainnyan seperti tawazun, tasamuh, dan  ta’addul. Dalam praktik tawasuth setiap angoota PMII berbeda. Misalnya dari sisi keaktifan saja, ada anggota yang menilai bahwa tawasuth adalah total di PMII tetapi kuliahnya tidak tuntas, ada yang dapat mensukseskan antara PMII dengan kuliah, ada pula yang hanya mampir Mapaba.
Mengapa sahabat yang tidak tuntas kuliah lantas disebut tawasuth? Bukankah dia tidak menempatkan diri antara kuliah dan berorganisasi? Dugaan bahwa mereka tidak menjalankan nilai tawasuth ini benar juga, toh buktinya tidak dapat menyeimbangkan antara kuliah dengan PMII?
“Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia” nama organisasi yang keren karena mengandung arti yang mendalam. Tentu arti-arti itu telah didapat sahabat ketikan mengikuti Mapaba. Terminologi diatas menjadi konsekuensi dari tujuan yang diemban PMII. Begitu banyaknya, mana yang didahulukan antara Pergerakan, Mahasiswa, Islam, dan Indonesia? Tuntutan-tuntutan yang  ini harus segera di rumuskan untuk menjalankan visi dan misi dari organisasi yang dibawa ketua.
Gerakan PMIII memerlukan inovasi yang tidak melulu bergerak dalam tradisi-tradisi buruk yang memanjakan kita. Bergeraklah dalam keserakahan dan ketamakan intra dalam Organisasi Pemerintahan Mahasiswa atau Organisasi Kerohanian Mahasiswa, atau bergeraklah dalam pengembangan sains masa kini—mewarnai kampus dengan prestasi—atau berseinergi dengan masyarakat sekitar kita.
Ini waktu kita untuk memunculkan ide baru agar PMII Ibnu Sina lebih dapat diterima oleh semua. Baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat. PMII yang diidamkan adalah PMII yang selalu menjunjung nilai luhur kemahasiswaan, Keislaman, dan ke-Indonesia-an.

Gerakan-gerakan yang istiqomah akan menghasilkan hasil yang baik. Penulis sendiri merasa bahwa keistiqomahan hal yang luar biasa sulit