Wednesday, 11 February 2015

Bagaimana Kita Memandang Ahlussunnah Wal Jama’ah?


Oleh: Aliyul Murtadlo[1]
Bila kita berbicara mengenai Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) pembeicaraan tidak berhenati sak lek hanya itu-itu saja. Bahasan Aswaja bergantung kepada kita memandang dari sisi mana terlebih dahulu. Yang telah sering dikaji oleh beberapa organisasi keislaman, baik masyarakat, kesiswaan, atau kemahasiswaan tidak lepas dari sudut pandang sejarah. Padahal aswaja tidak hanya dilihat dari sejarah, kemudian baimana kita merefleksikan diri sendiri. Kita dapat memandang aswaja dari berbagai prespektif, yaitu:
1.      Tinjauan historis
Tinjauan historis memandang aswaja sebagai bagian dari sejarah beserta tokoh-tokoh yang berperan penting di dalamnya. Tinjauan historis tidak lepas dari kehidupan Rasulullulah SAW, peristiwa berdarah saat Kholifah Ar-Rosyidun, peristiwa penguatan teologi Mu’tazilah pada masa dinasti Muawiyah dan Abbasyiyyah dan akhirnya Mu’tazilah runtuh pada massa Abbasyiyyah
2.      Substantif
Tinjauan substantif lebih menekankan pada konten dari ajaran Aswaja Itu sendiri. Bagaimana bertauhid, mengenal Allah dan syifatnya yang harus diimani, shifat Rasulullah dan malaikat. Tata cara Bertuhid seperti ini diberi nama ilmu Tauhid. Bagaimana melakukan kegiatan praktis di kehidupan sehari-hari baik dalam ibadah maupun muamalah. Tata caa ini diatur dalam ilmu fiqih. Dalam pendekatan subtantif,\ juga mengatur bagaimana menyucikan diri, menata hati, pendekatan diri denga Ilahi, dan hakikat berperilaku yang keseluruhannya itu ditata dalam ilmu tasawuf.
3.      Tinjauan ideologis/paradigmatis
Dari sini menawaarkan konsp bahwa aswaja adalah sebuah cita-cita dari ide bersama (ideologis). Selain itu juga merupakan paradigma (cara berfikir) bagi yang mneggunakannya. Secara ideologis, Aswaja yang diwarkan oleh salah satu ormas sebagai jalan tengah (tawasuth). Saat tawasuth ini dijadikan pedoman, maka terdapat konsekuensi yang tidak dapat dipisahkan dengannya yaitu tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) dan ta’addul (bersikap adil)
Aswaja dalam teori selalu menisbatkan Teologi kepada Abu Hasan Al-As’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Tetapi seringkali yang dijadikan tonggak sejarah dengan cerita yang fenomenal adalah cerita Abu Hasan Al-Asy’ari yang awalnya merupakan tokah ulama’ mu’tazilah pada awalnya. Anggapan Aswaja seperi ini dipahami dalam Aswaja dari prespektif sejarah (Tinjauan historis)
Ketika berbicara secara tinjauan historis, pembicaraan mengenai Ahlussunnah Waljama’ah ada tahap periodisasi. Periodisasi tersebut mencakup massa Islam Kaffah Rasulullah SAW, masa Kholifatur Rosyidin, Dinasti Umayyah, Dinas Abbasyiyyah, dan Turki Utsmani. Poin tambahan jika dihubungkan dengan keadaan Indonesia maka ada periodisasi Islam Indonesia.
1.      Islam Kaffah Rasulullah SAW
Islam jaman Rasulullah telah jauh berbeda dengan masa sekarang. Jika umat semasa Nabiy Munahammad SAW mempunyai uswatun hasanah secara lengkap. Beliau merupakan murobbi jasmani dan ruhani ummat. Rasulullah berhasil meredam seluruh perbedaan antr golongan dalam kesukuan masyarakat Islam. Menjunjung tinggi nilai kebersamaan (mungkin sekarang dapat dikatakan nilai humanisme) umat. Mempersaudarakan muslim Muhajirin dan Anshor. Membuat perdamaian dengan orang kafir dengan piagam madinah sebagai tata kelola kehidupan antar golongan dan antar umat beragama.
2.      Kholifatur Rosyidin,
Kajian Aswaja kadang konsen dengan munculnya golongan-golongan pasca Rasulullah wafat. Golongan tersebut muncul dengan asalan kesukuan atau dengan alasan dukungan terhadap calon Kholifah yang ia dukung.
3.      Dinasti Umayyah,
Pada masa ini muncul sekte Syiah yang awalnya sebagai gerakan politik, berkembang ke arah pemikiran. Apa akhir masa-masa akhir Dinasti Umayyah muculnya paham Al-Mu’tazilah.
4.      Dinasti  Abbasyiyyah,
Apa masa akhir Dinasti Umayyah paham Al-Mu’tazilah berkembang subur, banyak para ulama’ yang berpaham Almu’tazilah, termasuk Abu Al-Hasan Al-Asy’ari. Aswaja yang kita terima, tidak jauh dari sejarah mengenai pertikaian pemahaman Teologi Abu Al-Hasan Al-Asy’ari pada jaman dahulu kala ketikan Al-Mu’tazilah melakukan al-mihnah kepada para ulama yang menentang pahamnya. Abu Al-Hasan Al-Asy’ari yang berbalik arah mendapat dukungan dari umat. Sedangkan Al-Mu’tazilah kurang begitu disukai karena trauma terhadap peristiwa al-mihnah[2].
5.      Turki Utsmani
Masa-turki Usmani muncul tabrakan dengan kemodernitas barat. Tabrakan ini membuat adanya hasil yang berbeda-beda. Pasca keruntuhan muncul gerakan Pan-Islamisme yang cenderung Fundamentalis dan menetang kemodernitasan dan ada yang mengakomodasi kemodernitasan seperti Mustafa Kemal Pasha.
6.      Islam Indonesia
Berbicara Aswaja di Indonesia, berbicara mengenai madzhab mayoritas masyarakat Islam Indonesia. Kontruksi madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia telah terbentuk pada masa lampau, masa munculnya Kerajaan Samudra Pasai dan tumbuh subur pasca keruntuhan kejayaan Majapahit. Ahlussunnah wal Jama’ah di kodifikasi oleh Ulama’ di Indonesia. Ulama’ di Indonesia yang tergabung dalam Jam’iyyah Nahdlotul Ulama  mengkodifikasi bahwa Ahlussunnah Waljamaah adalah mereka yang mengikuti Imam Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, Imam Ghozali dan Junaid Al-Baghdadi dalam bidang tasawuf, dan mengikuti salah satu dari 4 Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Hambali, Imam Syafi’i dan Imam Maliki)
Kajian terhadap Aswaja dari prespektif sejarah akan terus relevan digunakan. Sejarah mengajari kita untuk berperilaku dan mengambil keputusan di masa mendatang. Sejarah menjadi bahan evaluasi terhadap tatanan masyarakat yang ada. Sejarah mengajari untuk tidak berperilaku ekstrim layaknya Qodariyyah, Jabbariyyah, Mu’tazilah, Syiah dll. Membaca sejarah membuat cakrawala terbuka dan tidak terjebak kepada pemikiran yang jumut dan kaku.
Secara paragdimatis,  prinsip Aswaja adalah Tawasuth, tawazun, tasamuh, dan  ta’addul dapat dikembangkan kembali. Pengembangannya dengan terus melakukan kajian terhdapa seluruh pemikiran siapa saja yang ada di dunia ini. Pengembangan ini menjadi tugas bagi generasi muda Aswaja. Kader PMII Ibnu Sina  harus mempelajari ilmu yang ada di internal kajian Aswaja dari kitab-kitab klasik yang mu’tabaroh. Jika sudah selesai, kajian terhadap pemikiran baru pun menjadi sangat penting. Karena pemikiran baru ini menjadi tantangan bagi kita. Bagaimana dalam kontruksi pemikiran itu dapat memadukan antara yang saling erlwanan atau meredam perbedaan dalam berpandangan.
Semangat melakukan kajian ini yang menjadi dasar untuk terus melakukan ijtihadnya sesuai dengan masanya. Kader PMII Ibnu Sina  menjadi pelopor pemersatu, pendorong, pendokrak pintu ijtihad. Jika sudah tuntas dengan semua kitab klasik yang mu’tabaroh, silahkan untuk mengembangan pemikiran Nitsche, Karl Mark, tau filsafat barat yang lain. Jika sudah ada bekal yang cukup (dari kajian agama) akan mampu untuk menyerap dan memadukan dengan kajian kitab agama dan realita di zaman ini. Sejalan dengan baitul hikmah di jaman Abbasyiyah, yang mampu menjadi pusat kajian Islam, dan Ilmu barat, sehingga menambah keilmuan masyarakat muslim.
Gerakan untuk melakukan kajian terhadapa pemikiran sangatlah penting untuk selalu diperbaharui. Kader PMII Ibnu Sina , generasi yang meyakini bahwa ulama’ salaf adalah ulama’ yang dapat menjadi panutan. Keistiqomahan para ulama tidak tertandingi oleh massa setelahnya. Dan generasi baru sebagai pencerah dan pemberi solusi yang berembang pada zamannya.



[1] Pengurus Rayon PMII Ibnu Sina masa Khidmat 2014—2015
[2] Nurdin,M.Amin., Abbas,Afifi Fauzi.2012.Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta.Penerbit AMZAH. Hal 95—98 

No comments:

Post a Comment