Wednesday, 11 February 2015

Refleksi mengapa kita beraswaja? Memperhatikan praktik Aswaja Mahasiswa PMII Ibnu Sina

Aswaja tidak jauh dari sejarah mengenai pertikaian pemahaman Teologi pada jaman dahulu kala ketikan Mu’tazilah melakukan al-minhah kepada para ulama yang menentang pahamnya. Hingga saat ini, kecenderungan aswaja dilihat dari prespektif sejarah masih relevan digunakan sebagai obyek kajian
Aswaja dalam teori selalu menisbatkan Teologi kepada Abu Hasan Al-As’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Tetapi seringkali yang dijadikan tonggak sejarah dengan cerita yang fenomenal adalah cerita Abu Hasan Al-Asy’ari. Apa karena   Abu Hasan Al-As’ari merupakan orang mu’tazilah pada awalnya, sehingga kajian Aswaja di PMII atau NU sering membahas Abu Hasan Al-As’ari, padahal kajian sejarah mengenai sosok juga sangat penting. Mengingat keduanya adalah tokoh dari Pemikiran Kalam Aswaja.
Secara umum prinsip Aswaja adalah Tawasuth, dari prinsip ini muncul beberapa konsekuensi prinsip lainnyan seperti tawazun, tasamuh, dan  ta’addul. Dalam praktik tawasuth setiap angoota PMII berbeda. Misalnya dari sisi keaktifan saja, ada anggota yang menilai bahwa tawasuth adalah total di PMII tetapi kuliahnya tidak tuntas, ada yang dapat mensukseskan antara PMII dengan kuliah, ada pula yang hanya mampir Mapaba.
Mengapa sahabat yang tidak tuntas kuliah lantas disebut tawasuth? Bukankah dia tidak menempatkan diri antara kuliah dan berorganisasi? Dugaan bahwa mereka tidak menjalankan nilai tawasuth ini benar juga, toh buktinya tidak dapat menyeimbangkan antara kuliah dengan PMII?
“Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia” nama organisasi yang keren karena mengandung arti yang mendalam. Tentu arti-arti itu telah didapat sahabat ketikan mengikuti Mapaba. Terminologi diatas menjadi konsekuensi dari tujuan yang diemban PMII. Begitu banyaknya, mana yang didahulukan antara Pergerakan, Mahasiswa, Islam, dan Indonesia? Tuntutan-tuntutan yang  ini harus segera di rumuskan untuk menjalankan visi dan misi dari organisasi yang dibawa ketua.
Gerakan PMIII memerlukan inovasi yang tidak melulu bergerak dalam tradisi-tradisi buruk yang memanjakan kita. Bergeraklah dalam keserakahan dan ketamakan intra dalam Organisasi Pemerintahan Mahasiswa atau Organisasi Kerohanian Mahasiswa, atau bergeraklah dalam pengembangan sains masa kini—mewarnai kampus dengan prestasi—atau berseinergi dengan masyarakat sekitar kita.
Ini waktu kita untuk memunculkan ide baru agar PMII Ibnu Sina lebih dapat diterima oleh semua. Baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat. PMII yang diidamkan adalah PMII yang selalu menjunjung nilai luhur kemahasiswaan, Keislaman, dan ke-Indonesia-an.

Gerakan-gerakan yang istiqomah akan menghasilkan hasil yang baik. Penulis sendiri merasa bahwa keistiqomahan hal yang luar biasa sulit 



No comments:

Post a Comment